Oleh-oleh Khas

Kalimantan Selatan tak hanya memiliki sasirangan sebagai kain tradisionalnya, namun ada juga Tenun Pagatan. Tenun yang satu ini memiliki ciri khas yang jauh berbeda dari sasirangan. Dari segi jenis kainnya hingga motif dan cara pembuatannya, semuanya sangat berbeda. Kain tenun ini berasal dari Kota Pagatan di Kabupaten Tanahbumbu, Kalimantan Selatan. Ada beberapa jenisnya yang dibedakan dari motifnya. Di antaranya adalah motif bebbe, sobbe are, sobbe sumelang dan panji atau passulu. Kain tenun pagatan khas Kalsel. Kegemaran bangsawan Bugis. Kain tenun ini mulai ada di Kalimantan Selatan diperkirakan pada abad ke 18, seiring dengan kedatangan para perantau suku Bugis dari Sulawesi. Di masa lalu, kain ini hanya dipakai oleh para bangsawan suku Bugis di Pagatan. Di Pagatan, banyak ditemui perajinnya dan mereka adalah orang-orang suku Bugis yang bermukim di sana. Mereka biasanya bekerja di rumah yang tersebar di beberapa desa. Para wisatawan bisa mengunjungi rumah mereka untuk bisa melihat langsung proses pembuatannya. Para perajin ini juga menerima wisatawan yang ingin menginap di rumah mereka, sembari melihat langsung proses pembuatannya dan mereka juga bersedia mengajari wisatawan yang berminat belajar membuat Tenun Pagatan. Sri Hidayah sering melakukannya. Bisa dikatakan, dia backpackeran ke Pagatan dan menginap di rumah para perajinnya ini sembari melihat dan mempelajari langsung cara pembuatannya. “Mereka ramah-ramah kok. Mereka tahu banyak tentang cara pembuatannya, jenis motifnya, dan sebagainya. Mereka senang sekali bisa mengajarkan cara membuatnya ke wisatawan,” jelas warga Kampung Melayu, Banjarmasin ini. Di Pagatan, dia mengunjungi desa-desa perajin tenun ini dengan berjalan kaki, naik sepeda motor atau mobil. Sebab, terkadang tak ada transportasi umum untuk menjangkau perkampungan mereka karena ada saja yang tinggalnya di pelosok. “Ada yang tinggalnya di daerah yang mudah dijangkau sehingga bisa menggunakan ojek atau becak, tarifnya Rp 5.000 saja. Namun ada juga yang susah dijangkau yang jaraknya sangat jauh dari Pagatan. Ada juga yang di pinggir sungai, ke sana harus naik perahu,” tuturnya Kain tenun pagatan sedang dikerjakan perajin. Tak jarang juga yang tinggalnya di daerah terpencil, di balik pepohonan rumbia bahkan di tengah sawah yang akses jalannya sangat sulit dan tak dilalui kendaraan umum. “Makanya saya ke sana kalau memungkinkan jalan kaki, kalau tidak ya naik sepeda motor atau mobil sambil menikmati pemandangan alam di sana,” paparnya. Mereka ini tersebar di lebih dari lima desa, seperti di Desa Manurung, Mudalang, Mattone Kampung Baru, Barugelang, Batarang, Saring Sungai Binjai, Sepunggur dan di Kota Pagatan sendiri juga ada. “Untuk Desa Manurung, Mudalang, Sepunggur dan Mattone sangat mudah ditempuh. Dekat dari pusat Kota Pagatan,” katanya. Para perajin di empat desa ini biasanya dipusatkan di bengkel tenun. Selama menginap di rumah-rumah para penenunnya, dia belajar banyak tentang cara menenunnya. Penenun di tiap desa memiliki keahlian tersendiri. Misalnya, benang dipintal di Desa Manurung, kemudian diikat di Desa Mudalang, diwarnai di Desa Saring Sungai Binjai lalu ditenun di Desa Barugelang. Selama menginap di rumah-rumah mereka ini, dia jadi lebih tahu banyak tentang kain Tenun Pagatan. Selain keramahan penghuni rumah, dia juga bisa menikmati kuliner khas setempat dan mendengar suara-suara mesin tenunnya tiap hari. Semuanya diproses secara tradisional dan dia benar-benar merasakan bagaimana kehidupan sehari-hari para perajinnya yang masih sangat sederhana dan semangat perjuangan mereka untuk terus melestarikan budaya nenek moyang mereka melalui seikat kain Tenun Pagatan. Proses pembuatan sehelai kain ini sangat rumit. Karena dibuat secara manual, tak heran jika harganya mahal. Harga Tenun Pagatan per helai ukuran 2 x 1,3 meter, bahan katun ATBM senilai Rp 250.000 dan sutra Rp 700.000 – Rp 800.000. Kalau yang memakai pewarna alami berbahan sutra biasanya harganya di atas Rp 1 juta. Jenis songket pun di atas Rp 1 juta. “Yang paling banyak dicari wisatawan adalah yang katun ATBM karena lebih murah. Kain-kain ini biasanya juga diolah jadi berbagai jenis kerajinan tangan macam bros, kotak perhiasan, dompet, dan sebagainya buat dijual,” ujarnya. Untuk ke sana, dia harus rela menempuh perjalanan jauh dari Banjarmasin. Kain tenun pagatan khas Kalsel. Kegemaran bangsawan Bugis. Ada beberapa alternatif yang digunakan untuk mencapai Pagatan. Bisa menggunakan angkutan umum dari Terminal Induk Km 6 di Banjarmasin langsung ke Pagatan dengan biaya Rp 80.000 per orang. Jika dengan jasa travel biayanya Rp 140.000 per orang. Bisa juga menggunakan pesawat dari Bandar Udara Syamsudin Noor di Kota Banjarbaru ke Bandar Udara Bersujud di ibukota Kabupaten Tanahbumbu, yaitu Batulicin. Dari Batulicin harus melanjutkan perjalanan lagi sekitar satu jam ke Pagatan. “Kalau perjalanan darat totalnya lima jam dari Banjarmasin. Jalan menuju ke sana sangat nyaman. Kalau dengan pesawat terbang ke Batulicin hanya 45 menit,” tutupnya. (Yayu Fathilal)